Tampilkan postingan dengan label Potret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potret. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

Ketika Kelangkaan BBM Kembali Terjadi di Kota Muara Tebo

. Sabtu, 18 Juni 2011
0 komentar

Eceran Menghilang, Warga Mengeluh Curiga di SPBU Cepat Habis


Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali melanda Kota Muaratebo dan sekitarnya. Sejak beberapa minggu terakhir kelangkaan ini telah terjadi di SPBU Tebingtinggi, satu-satunya SPBU yang ada di Kota Muaratebo. Namun dua hari terakhir kelangkaan semakin parah karena pedagang eceran juga banyak yang berhenti jualan.

===============================================================


Soal keluhan masyarakat terhadap kekurangan BBM di kabupaten Tebo bukan cerita baru. Selama ini sudah sering terjadi jika stok BBM di SPBU Tebingtinggi hanya bisa ditemui pada pagi hari saja. Belum sampai tengah hari BBM sudah habis.


Sehingga kerap ditemui kalau SPBU Tebingtinggi selalu sepi pada siang hari. Namun pada malam hari sekitar pukul 24.00 hingga menjelang pagi antrian sangat ramai. Baik pembeli jeriken maupun pembeli yang membawa kendaraan. Itu telah biasa terjadi di kota Muaratebo.


Namun sepekan belakangan, keluhan makin menjadi. Soalnya ditingkat pedagang eceran juga sangat susah ditemukan BBM. Di sepanjang jalan lintas Tebo-Bungo yang biasa mudah ditemukan penjual minyak eceran sekarang sangat jarang ditemukan.


"Kalau di SPBU ini jangan di tanya, ini saya beli dari Jambi. Tidak hanya di Tebo, di Bungo juga payah mencari minyak," kata salah seorang penjual bensin eceran di KM 4 jalan lintas Muaratebo kemarin. Kendati mengaku beli dari Jambi dia tetap menjual harga standar eceran Rp 5.500 perliter.


Namun lain cerita bagi masyarakat Tebo yang memiliki kendaraan roda empat. Walau letak SPBU cukup jauh dari pusat kota Muaratebo, namun mereka biasa mengisi BBM di SPBU. Makanya setiap kali mengantri mereka selalu menggeutu. Lebih parah lagi jika sampai di SPBU stok BBM telah habis.


Makanya sorotan masyarakat Tebo langsung tertuju ke SPBU tersebut. Karena kondisi BBM di SPBU yang selalu cepat habis tersebut sudah lama berlangsung. Namun pihak pertamina tetap tidak menambah pasokan BBM buat Masyarakat Tebo melalui SPBU yang ada.



Walau pihak SPBU mengatakan kelangkaan disebabkan kurangnya suplay dari depo pertamina tetapi muncul dugaan banyaknya warga yang menimbun dengan pengisian jeriken. Sehingga kebutuhan BBM yang di peruntukan kendaraan roda dua dan empat menjadi berkurang.



Seperti selama seminggu terakhir ini, di SPBU Tebing tinggi antrian panjang terjadi pada pagi hari hingga pukul 10.00 WIB. Akibatnya belum sampai tengah hari, SPBU sudah kehabisan stok. "Ini karena berkurangnya pasokan dari pertamina. Sekarang hanya di suplay 16 ton perharinya," sebut petugas SPBU kemarin.



Warga Pancurang gading, Tanjung mengaku kesulitan untuk mendaptkan BBM di SPBU Tebing tinggi saat siang hari, sementara pihaknya untuk mengisi BBM di tempat eceran menghawatirkan kualitas BBM tersebut. "Anehnya suplay BBM dari Pertamina malam hari, namun tidak sampai siang hari sudah keburu habis, jadi kemano minyak sebanyak itu," katanya dengan nada kesal.


Senada, Yanto warga KM 4 Lintas Tebo-Bungo juga mengeluhkan kondisi BBM di SPBU Tebingtinggi tersebut. Menurutnya, selama ini sering dirinya datang ke SPBU hanya untuk melihat SPBU dalam kondisi kosong. Sehingga dirinya harus menunggu lama atau langsung kembali ke rumah. "Bakal dak bejalan lagi mobil ko," katanya.(*)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 17 Juni 2011

H Abdullah SH MM: Plh Bupati Tebo yang Tidak Pernah Terpikir untuk jadi Bupati

. Jumat, 17 Juni 2011
0 komentar

Anggap Sebagai Anugerah, Terjebak Macet dan Pecah Ban Saat ke Jambi Menghadiri Pelantikan

Biasanya untuk menjadi seorang Bupati mengeluarkan uang milyaran rupiah. Uang banyak saja tidak cukup, dukungan puluhan ribu atau ratusan ribu dari masyarakat juga menentukan. Namun itu tidak berlaku bagi Abdullah, walau hanya Pelaksana Harian (Plh), namun saat ini Peltu Sekda Tebo ini adalah orang nomor satu dikabupaten Tebo.

================================================================


Dikalangan PNS Tebo tidak ada yang tidak mengenal H Abdullah. Seorang PNS yang dikenal sangat sederhana, yang menjabat sebagai Asisten I bidang Pemerintahan dan Kesra Sekda Tebo. Untuk seorang PNS, biasanya jabatan asisten dikenal sebagai jabatan penghargaan jelang pensiun.


Namun itu tidak berlaku bagi pria asal Tebo Ulu yang akrab disapa Dolet ini. Diusianya yang sudah tidak muda lagi sekarang, dia bisa menjabat sebagai Sekda Tebo dan Bupati Tebo. Walaupun hanya sebagai pelaksana tugas dan pelaksana harian.


"Ya begitulah, siapa yang tahu. Rezeki, jodoh, maut dari Allah. Tidak pernah terpikir ternyata bisa menjadi Plh Bupati," katanya sambil tersenyum tipis khas dirinya saat berbincang dengan Radar Tebo di sela melakukan pengecekan rumah dinas Bupati dua hari lalu. Diketahui, dia turun ke rumah dinas selaku Plh Bupati setelah mendapat informasi ada aset rumah dinas yang hilang.


Kisah Abdullah sebagai orang nomor satu di bumi seentak galah serengkuh dayung bermula dari mundurnya Ridham Priskap sebagai Sekda Tebo karena maju sebagai Calon Bupati Tebo pada awal tahun 2011 lalu. Posisi Sedak Tebo yang kosong itu membuka kesempatan bagi Abdullah. Bupati Tebo yang waktu itu dijabat Madjid Muaz mempercayai dirinya untuk menjadi pelaksana tugas (peltu) Sekda Tebo.


Tidak hanya sebatas jabatan Sekda, bahkan pada 12 Juni 2011 lalu dirinya dipercaya oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus untuk menjadi pelaksana tugas harian (Plh) Bupati Tebo untuk mengisi kekosongan pasca berakhirnya kepemimpinan Madjid Muaz. Posisi Bupati Tebo tidak bisa langsung diisi Pejabat Bupati baru karena saat ini proses pemilukada Tebo masih berjalan.


Upaya mengisi posisi kosong tersebut dengan Pejabat Sementara atau carateker Bupati yang mempunyai kekuatan hukum sama dengan Pejabat Bupati juga mentok. Soalnya aturan undang-undang untuk menunjuk carateker harus melalui paripurna DPRD yang mengesahkan pemberhentian Bupati yang habis masa jabatan. Namun dua kali paripurna yang diagendak terjadi dead lock karena tidak cukup kuorum.


Makanya Abdullah ketiban pulung menjadi Plh Bupati Tebo. Dia dilantik berdasarkan telegram dari Mendagri Nomor T.131.15/2445/OTDA tentang pelaksana tugas sehari-hari Bupati Tebo di auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi. Memang sebagai Plh tidak sama dengan carateker. Berdasarkan PP No 5 tahun 2006 bahwa Pejabat Pelaksana Harian tidak boleh membuat kebijakan, hanya menjalankan tugas rutinitas.


Namun sejarah hidup Abdullah mencatat dirinya pernah menjadi Bupati Tebo. Belum diketahui berapa lama Abdullah menjadi pelaksana harian Bupati Tebo. Yang jelas hingga kemarin DPRD Tebo belum menggelar paripurna untuk mengesahkan pemberhentian Bupati Madjid Muaz sebagai salah satu syarat untuk penunjukkan carateker Bupati.


"Saya saja terkejut waktu diberitahu sehari sebelum dilantik menjadi Plh Bupati," katanya saat berbincang dengan Radar Tebo dua hari lalu. Diceritakannya, pada saat akan menghadiri pelantikan hari minggu, dirinya juga terjebak macet di jalan menuju ke jambi pada sabtu malam. "Ada truk pengangkut batu bara terbalik," tuturnya.


Tidak hanya terjebak macet, dalam perjalanan mobil yang dikendarainya juga pecah ban. "Setelah macet, ban mobil pecah dan harus diganti karena terkena paku yang panjang," katanya mengenang kembali perjalanan menuju kota Jambi pada akhir pekan lalu itu.


Dituturkannya selaku abdi negara, dirinya memang harus siap ketika mendapat kepercayaan seperti saat ini. Namun dirinya tetaplah seorang Abdullah yang sederhana dan menjabat Asisten I Setda. Dirinya tidak menikmati fasilitas dinas sebagai seorang Sekda apalagi seorang Bupati.


"Ya kalau ruangan kerja memang sudah tidak di ruangan asisten lagi, namun kalau untuk tinggal di rumah dinas, ya tidak mungkinlah. Nanti sehabis jadi Plh Bupati dibilang ada barang rumah dinas yang hilang lagi," katanya sambil tertawa kecil.(*)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 29 Mei 2011

Guru SD Perkosa Dua Siswanya, Nyaris Tewas Jadi Korban Amuk Masa

. Minggu, 29 Mei 2011
1 komentar

MuaroTebo – Dunia pendidikan di Kabupaten Tebo kembali tercoreng oleh perbuatan Eko Nugroho (32) guru honorer di SDN 13/VIII Tebo jarak jauh didusun Kumpul Rejo Desa Muaro Kilis Kecamatan Tengah Ilir yang diduga telah tega memperkosa dua orang siswi sekolahnya.

Informasi yang berhasil dirangkum harian ini menyebutkan, aksi perkosaan terhadap dua orang siswinya sebut saja bunga dan kembang, keduanya siswi kelas 4 di SD tersebut warga Dusun Kumpul Rejo Desa Muaro Kilis Kecamatan Tengah Ilir, terungkap setelah kedua korban mengeluh sakit pada perut dan kemaluannya saat hendak buang air kecil.
Merasa curiga kedua orang tua korban merasa curiga dengan penyakit yang diderita anak mereka, setelah didesak, akhirnya keduanya mengaku sudah lima kali diperkosa oleh guru bejat, mendengar pengakuan kedua korban kontan saja membuat warga emosi dan langsung mendatangi Eko yang baru saja pulang dari rumah orang tuanya didaerah trans sitiung Sumbar.

Kontan saja eko sang guru honorer tersebut langsung jadi bulan-bulanan amuk masa yang marah dan tidak terima dengan perbuatan bejatnya tersebut, hingga akhirnya oleh Julianto Ketua Rt 01 Dusun Kumpul Rejo bersama perangkat dusun menyerahkannya kemapolsek Tengah Ilir dengan kondisi yang sangat menggenaskan.
Julianto mengatakan menurut pengakuan kedua korban, mereka diperlihatkan dan disuruh nonton film porno dari Hand Phone (HP) milik pelaku, setelah itu korban diraba-raba dan kemudian dipaksa melayani nafsu bejad pelaku dengan ancaman akan diturunkan nilai dan rangkingnya jika tidak mau melayani korban.
“Semua pengakuan kedua korban dan pelaku ada direkam di HP ketua Komite yang sekarang ini sedang dijalan menuju kemari, setelah dipaksa nonton film porno dari HP pelaku kemudian dipegang-pegang dan akhirnya diminta untuk melayani nafsu bejatnya,”kata Julianto kemarin.

Sementara itu Kapolres Tebo AKBP Moh Arifin S.Ik melalui Kapolsek Tengah Ilir AKP Elman mengatakan bahwa sekarang ini pihaknya belum bisa meminta keterangan dari pelaku, karena kondisinya yang babak belur dan nyaris tewas karena menjadi korban amuk masa.
“Sekarang ini pelaku kita rujuk dulu ke RSUD Sultan Taha Saefuddin (STS) Tebo, mengingat kondisinya yang babak belur dan nyaris tewas saat diantarkan kemari, dan belum bisa kita mintai keterangan,”ujar Kapolsek
kemarin.

Kapolsek juga mengatakan bahwa sekarang ini pihaknya sedang menunggu kedatangan kedua korban bersama orang tuanya untuk dimintai keterangan, dan pihaknya sekarang ini masih mendalami kasus ini lebih lanjut.
“Dari keterangan korban nanti akan kita kembangkan apakah masih ada korban lainnya atau tidak,”pungkasnya.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 29 April 2011

Komunitas Pecinta Sepeda Ontel Muara Tebo Lestarikan Barang Peninggalan Datuk

. Jumat, 29 April 2011
1 komentar

Generasi muda di kota Muara Tebo sejak beberapa bulan belakangan mulai mengandrungi hobby mengendarai sepeda tua atau biasa di sapa sepeda ontel. Dengan diambah kopi koboi mereka melenggang di jalanan kota membentuk konvoi kecil. Pinggir jalan depan kantor Telkom Muara Tebo juga menjadi tongkrongan mereka. Bagaimana komunitas ini terbentuk? Berikut ulasan Radar Tebo.

""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""

Di kalangan anak muda kota Muara Tebo, nama Dayat dan Eka Apek cukup di kenal karena berani tampil beda. Mereka menyusuri jalanan kota Muara Tebo dengan sepeda ontel. Ditambah aribut topi koboi, penampilan mereka terlihat kian unik dan menarik perhatian.

Setelah puas mengitari kota Muara Tebo dua sekawan ininongkrong di depan kanor Telkom KM 1 Muara Tebo. Kian hari pecinta sepeda ontel terus berambah dan ikut nimbrung di sana . Itulah awal terbentuknya komunitas unik tersebut.

Menurut Dayat dan Eka hobby tersebut berawal dari melihat sepeda ontel milik datuknya. Dayat terkenang dengan datuknya yang pada masa dulu mengendarai sepeda tua itu. Sejak itu Dayat dan Eka mulai melakukan perbaikan terhadap sepeda peninggalan datuknya tidak dipakai lagi.

"Sepeda ontel peningalan datuk aku amplas, kemudian aku cat ulang. Sekarang ini lah hasilnya" ujar Dayat sambil menunjukan sepeda ontel hasil rombakannya. Menurutnya, perkumpulan sepeda ontel yang diprakarsainya bersama Eka Apek itu telah dimulai sejak bulan Februari yang lalu.

Awalnya mereka Cuma berdua, saat ini sudah ada belasan sepeda ontel yang ikut mangkal bersama sepeda ontel mereka. Namun tidak menutup peluang akan muncul anggota-anggota baru. "Perkumpulan ini tidak memandang usia. Selama memiliki sepeda dan bisa menggunakan, mereka bisa ikut bergabung," terang Dayat.

Ditambahkan Eka Apek, mereka termotivasi karena ingin melestarikan sepeda ontel yang dulunya digunakan datuknya untuk berbagai kegiatan mencari nafkah. Katana, komunitas sepeda ontel yang dibentuk, karena kesadaran bersama untuk melestarikan peninggalan nenek moyang.

"Sebab selama ini sudah banyak yang dijual keluar negeri menjadi barang antik. Sebagai anak cucunya, kita lah yang melestarikannya," ujar Eka Apek, disela-sela nongkrong bareng dengan perkumpulan sepeda ontel lainnya di seberang kantor Telkom Tebo.

Perkumpulan sepeda ontel, lanjut Eka Apek, memiliki efek yang cukup besar. Selain sebagai hobby dan peletarian peninggalan masa lalu juga untuk kesehatan. "Hitung-hitung sekalian olah raga," tukasnya.

Selain itu juga memiliki efek yang cukup besar bagi kondisi lingkungan udara dengan berkurangnya polusi udara. "Bayangkan jika sebagian besar orang menggunakan sepeda melakukan aktivitasnya. Secara otomatis penggunaan kendaraan bermotor akan berkurang dan polusi juga akan berkurang," tuturnya.

Untuk ke depanya, Dayat dan Eka Apek berharap agar sepeda ontel bisa diterima di hati masyarakat Tebo. Sehingga sepeda ontel tidak dianggap sebagai barang kuno yang pada akhirnya akan hilang ditelan masa.(*)


Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 28 April 2011

Warga Pulau Temiang Menerima Kompor Gas Konversi Yang Rusak

. Kamis, 28 April 2011
0 komentar

PULAU TEMIANG–Walau telah menerima bantuan kompor gas dan tabung elpiji, warga kelurahan Pulau Temiang kecamatan Tebo Ulu belum bisa menggunakan kompor program konversi minyak tanah ke gas tersebut. Ini karena alat yang dibagikan itu dalam kondisi rusak. Dan sebagian masyarakat juga belum mengetahui cara menggunakan.

"Saya memang telah menerima kompor gas, tetapi rusak jadi saya tidak bisa mengunakannya. Dan kini kami mengunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak," tutur Anuar (36) warga RT 7 kelurahan Pulau Temiang Kamis (28/4) kemarin.

Distribusi kompor dan tabung gas (LPG) 3 Kg di Kelurahan Pulau Temiang sudah dilakukan sejak beberapa hari yang lalu. Namun dari penelusuran Radar Tebo masih ada sebagian warga yang belum menerima. Sehingga warga tersebut masih mengunakan kayu bakar dan minyak tanah untuk kebutuhannya.

Menurut Eki (34), warga RT 3 Pulau Temiang, kompor gas dan tabung LPG 3 Kg sudah dibagikan kepada warga yang memiliki kartu pendataan beberapa hari yang lalu. Namun, dirinya dan beberapa warga yang memiliki kartu pendataan tidak bisa mengambil bantuan tersebut.

"Saya tidak tahu, mengapa saya tidak bisa mengambil bantuan tersebut, padahal saya sudah menunjukan kartu pendataan kepada petugas yan membagikan bantuan terasebut," kata Eki kemarin.

Senada, Yati (37) mengaku belum mendapatkan bantuan tersebut. Bahkan wanita ini juga belum mengerti cara mengunakan kompor gas dan tabung LPG 3 Kg tersebut. Menurutnya, dirinya sudah terdata dengan memiliki kartu pendataan sebagai calon penerima bantuan.

"Kenapa kok sampai sekarang kami belum juga menerima bantuan tersebut. Tanpa ada kejelasan kepada yang pasti. Padahal warga disekitar kami sudah ada yang menerima bantuan tersebut," katanya dengan nada bertanya.(Radar Tebo)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Fraksi DPRD Tebo Berebut Menjadi Anggota Badan Anggaran, Sidang di Tunda

MUARATEBO-Paripurna pembentukan baru alat kelengkapan DPRD Tebo memang telah memutuskan komposisi baru untuk tiga komisi di DPRD Tebo. Namun untuk menentukan susunan Badan Anggaran (Banggar) dan Badan Musyawarah (Bamus) menemui jalan buntu.


Paripurna yang digelar pada sore Rabu (27/4) lalu yang diikuti 29 anggota Dewan tidak membuahkan hasil dan harus diskor hingga sekarang. Untuk menyelesaikan persoalan itu DPRD Tebo meminta petunjuk ke Provinsi.


"Paripurna kemarin (Rabu, red) belum menemukan kesepakatan dan kini masih menunggu hasil konsultasi dengan pihak Provinsi," kata Rizal Effendi, sekwan DPRD Tebo ditemui di gedung DPRD Tebo KM 12 Kamis (28/4) kemarin.


Penyebab gagalnya pembentukan susunan anggota Banggar dan Banmus itu karena ajuan fraksi lebih banyak ke Banggar dari pada Banmus dengan perbandingan 13 anggota dan 11 anggota. Padahal aturannya, dengan 30 kursi di DPRD Tebo, komposisi Banggar dan Banmus harus sama-sama beranggotakan 12 orang.


"Dalam paripurna, fraksi lebih banyak mengajukan anggotanya ke Banggar sehingga jumlahnya tidak sama. Sampai akhir sidang tidak menemukan titik terang agar anggota yang diajukan fraksi ke Banggar dan Banmus menjadi sama banyak," terang Rizal Effendi.


Karena itulah sidang di skor dan melakukan koordinasi ke pihak Provinsi terlebih dahulu. Menurut Rizal Effendi, untuk menyelesaikan persoalan itu, kemungkinan akan ditempuh dengan jalan voting. "Aturannya kalau sidang menemukan titik buntu, maka diselesaikan dengan voting. Namun kini masih menunggu petunjuk dari Provinsi," jelasnya.


Sementara, Wakil Ketua DPRD Tebo Syamsu Rizal mengatakan buntunya sidang itu karena ada fraksi yang ingin menempatkan lebih banyak anggotanya di Banggar. Menurutnya karena Banggar merupakan bagian yang strategis untuk menyerap aspirasi masyarakat dalam pembangunan maka semua fraksi pasti akan menempatkan anggotanya di Banggar.


"Namun walau begitu penempatan anggota fraksi di semua susunan alat kelengkapan dewan penempatannya harus tetap secara adil untuk semua fraksi. Karena selain Banggar dan Banmus juga ada posisi BK (Badan Kehormatan) yang juga alat kelengkapan dewan. Kalau untuk unsur pimpinan (Ketua DPRD dan Wakil Ketua, red) secara otomatis masuk ke Banggar dan Banmus," tukasnya.(Radar Tebo)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 25 April 2011

Mengunjungi Panti Jompo Nurul Jalal Muara Tebo

. Senin, 25 April 2011
0 komentar

Di Bangun Tahun 1954, Tempat Lansia Mendalami Agama Islam


Dibalik hiruk pikuk aktivitas penjual dan pembeli di Pasar tradisional Muara Tebo, sekelompok orang lanjut usia mendalami ilmu agama Islam. Di usia senja mereka mengabdikan hidup untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka adalah penghuni panti jompo yang terletak berdampingan dengan pasar Muara Tebo. Bagaimana kondisi mereka? Beriku ulasan Radar Tebo

.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++


Sebagian besar masyarakat Tebo mengenal ulama yang menyebarkan agama Islam di kabupaten Tebo. Adalah Almarhum KH.Zahrudin Usman, yang dikenal masyarakat Tebo sebagai Guru Besar yang merintis pendidikan Islam di bumi seentak galah serengkuh dayung.


Panti jompo di pasar Muara Tebo itu merupakan salah satu dari peninggalan ulama kelahiran tahun 1901 di Sungai Jawi–jawi, Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara itu. Pada mulanya panti tersebut di bangun di desa Mangun Jayo kecamatan Tebo Tengah. Pada Tahun 1954 berkembang hingga kepasar Muara Tebo.


Saat ini panti jompo tersebut memiliki 60 santri lanjut usia yang berasal dari berbagai Desa dalam kabupaten Tebo. Mereka dititipkan anak-anak mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mendalami ilmu agama Islam. Dan banyak juga yang punya keinginan sendiri untuk menghabiskan masa tua. Kebanyakan mereka merupakan bekas santri Ponpes Nurul Jalal.


Diketahui, Ponpes Nurul Jalal terletak di KM 1 Muara Tebo. Pada saat dipimpin almarhum Mansur, pondok ini menjadi tempat masyarakat Tebo untuk belajar ilmu agama Islam. Dan santri di panti jompo merupakan orang tua yang pernah nyantri di Ponpes Nurul Jalal pada waktu muda dahulu.


Salah seorang penghuni panti, Nyai Sa'ad menceritakan kalau dahulunya pondok nurul jalal yang merupakan cikal bakal panti jompo berada di desa Mangunjayo. Dan pada tahun 1954 pindak ke pasar Muara Tebo. Nenek berumur 111 tahun ini juga telah belajar di ponpes Nurul Jalal sejak sejak tahun 1954. Dan kini dia bersama penghuni lain saling berbagi ilmu agama Islam.


"Nak, sayo ko dulu mulonyo belajar di pondok yang waku itu terletak di desa mangun jayo. Tapi Tuan Guru mengajak sayo pindah ke pondok ko, supayo orang-orang disiko mau ngaji kalau ado nyaidisiko," tuturnya saat berbincang dengan Radar Tebo..


Salah satu Pengelola Yayasan Nurul Jalal, Aslami menjelaskan kalau Panti Jompo ini, merupakan salah satu dari Lembaga Pendidikan yang berada dibawah Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jalal. Panti ini dibawah bimbingan Hj Siti Khodijah yang merupakan Istri dari Almarhum Tuan Guru Mansur.


"Setelah wafatnya almarhum Tuan Guru KH Zahrudin Usman pada tahun 1984, yayasan ini dipimpin almarhum Tuan Guru KH.M Mansur Hingga tahun 2002. Dan setelah Tuan Guru Mansur wafat, kepemimpinan yayasan dilanjutkan oleh H Fauzi Mansur hingga saat ini,"tutur Aslami.


Menurutnya, dipanti jompo ini, diajarkan ilmu tauhid, fiqh, Ibadah, dan mengaji Al – qur'an, guna mendekatkan diri kepada Allah. Sejak berdiri, yayasan ini, banyak sekali jasa–jasa masyarakat dan pemerintah. Baik saat Tebo masih bergabung dalam kabupaten Bungo-Tebo maupun setelah pemekaran sekarang.


"Dari sejak Bupati Abdul Mutholib pada masa Bungo-Tebo dulu hingga Bupati Madjid Muaz saat ini, pondok ini banyak mendapatkan bantuan pemerintah dan masyarakat. Baik itu berupa sembako maupun saran berupa Sarana Bangunan Kamar mandi, Tempat Wudhu, dan Musholla," tukasnya.(*)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 22 April 2011

Cerita Dibalik Program Konversi: Mulanya Takut Meledak, Kini Minta di Data Ulang

. Jumat, 22 April 2011
0 komentar

Program pemerintah untuk mengganti penggunaan minyak tanah ke gas mulai disalurkan. Bantuan berupa tabung gas, kompor, slang regulator mulai diterima masyarakat melalaui perangkat desa masing-masing. Bagaimana tanggapan masyarakat pedesaan terhadap program yang awalnya sempat menjadi kontraversi ini? Berikut ulasan Radar Tebo.


===============================================================

Saat berkunjung ke desa-desa dalam kabupaten Tebo sering ditemukan aktivitas pembagian tabung gas dan kompor kepada masyarakat. Perangkat desa memberikan kepada pemilik yang telah terdata dan berhak mendapatkan bantuan pemerintah tersebut. Sebelum sampai ke tangan masyarakat, alat-alat itu juga diperiksa dengan teliti.

Memang sejak pemerintah meluncurkan program ini, perangkat desa memiliki kesibukanbaru untuk melayani masyarakatnya. Masyarakat cukup antusias untuk mencoba menerapkan program ini. Jika selama ini untuk memasak mereka menggunakan minyak tanah atau kayu bakar, sekarang mereka bisa menggunakan gas elpiji.

Namun program awalnya program ini tidak mudah diterima oleh masyarakat yang telah terbiasa memasak dengan kayu bakar atau minyak tanah. Ditambah lagi dari informasi dari berita-berita nasional yang menayangkan tragedi meledaknya tabung gas di beberapa daerah di pulau jawa. Mereka kuatir bencana serupa menimpa hidup mereka.

"Sebenarnya masih banyak warga yang seharusnya berhak menerima bantuan ini yang belum dapat. Mungkin, warga sering mendengar berita tentang tabung gas yang sering meledak, jadi sewaktu pendataan dahulu mereka enggan untuk di data," kata Isfani kepala desa Bedaro Rampak kecamatan Tebo Tengah.

Katanya, setelah melihat banyak warga yang mendapatkan bantuan tersebut banyak yang ingin mendpatkan bantuan tersebut. Mereka yang dulu takut, kini minta didata ulang agar bisa menikmati layanan pemerintah tersebut. Namun untuk pendataan ulang tersebut harus dilakukan bertahap. "Masyarakat harap bersabar," katanya.

Harapan warga yang dulu takut meledak kini minta didata lagi juga dikatakan Kepala Dusun Sumber Anom Busrawi. Menurutnya banyak warganya yang berharap agar pemerintah atau pihak yang terkait mendata ulang. "Setelah melihat warga menerima bantuan kompor dan tabung elpiji 3 Kg, beberapa warga yang tidak terdaftar menginginkan pendataan ulang," katanya.

Sementara, Bambang Sekretaris Desa (Sekdes) Teluk Sungkawang kecamatan Sumay mereka juga menangkap ketakutan dari masyarakat terhadap program yang sempat menimbulkan bencana di beberapa daerah di pulau jawa tersebut. Makanya, Setelah kompor dan tabung gas sampai ke desa langsung di tempatkan di kantor kepala desa dan dilakukan pemeriksaan secara teliti.

"Sebelum pendistribusian, kami juga mengadakan sosialisasi ulang selama 1 jam. Agar masyarakat bisa menggunakan kompor tersebut dengan baik dan benar. Dan kita berharap dengan cara itu masyarakat menjadi tahu cara penggunaannya," tukas Bambang.

Kemudian untuk warga yang belum menerima, karena pada awal pendataan dahulu banyak warga belum terdata, kemudian diadakan pendataan susulan. "Bagi warga yang belum menerima diharapkan untuk bersabar," tukasnya.

Persoalan warga yang ingin mendapatkan bantuan konversi namun tidak terdata juga terajdi di kecamatan Rimbo Ulu. Menurut Sekretaris Suyadi ada warga yang protes karena tidak mendapatkan bantuan tersebut. Walau sebenarnya mereka berhak untuk mendapatkan, namun tidak terdata.

"Bagi warga lain yang layak untuk menerima bantuan tersebut, namun belum menerimanya, dapat mengajukan persyaratan lagi. Karena saat ini pedistribusian program ini masih dalam proses, kemungkinan data susulan masih diterima," tandasnya.(*)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sabtu, 16 April 2011

Jembatan Gantung Desa Tuo Sumay Asset Wisata Yang Hilang

. Sabtu, 16 April 2011
0 komentar

Rawan Kecelakaan, Urat Nadi Perekonomian Masyarakat

Jika di telusuri ke desa-desa dalam kabupaten Tebo banyak ditemukan tempat yang menjadi asset wisata. Salah satunya jembatan gantung di desa Tuo Sumay kecamatan Sumay yang saat ini terbengkalai karena tidak mendapat perbaikan. Bagaimana kondisinya? Berikut laporan wartawan Radar Tebo.

Di bawah teriknya matahari, seorang bocah melintasi jembatan di Desa Tuo Sumay. Masyarakat di sana terbiasa menyebutnya jembatan gantung. "Dak do la bang, nak duduk–duduk be diatas jembatan ko," kata anak tersebut dengan bahasa Tebo yang kental saat disapa Radar Tebo.

Jembatan gantung ini merupakan sarana penyeberangan yang sangat membantu masyarakat desa itu. Berlokasi dekat pemukiman penduduk, jembatan sepanjang lebih kurang 80 meter ini dibangun diatas sungai Batang Sumay. Merupakan penghubung antara Desa Tuo Sumay dan Dusun Olak Bandung.

Jembatan Gantung ini dilengkapi pengaman didua sisi, kanan dan kiri jembatan untuk berpegangan bagi pejalan kaki. Lantainya dari papan yang diberi penahan kayu persegi dan dua pasang Beton besar sebagai penyangga berdirinya jembatan ini.

"Jembatan ko dibangun sekitar tahun 1996 pado maso pak Abdul Muthalib lagi jadi Bupati Bungo Tebo dulu" jelas H Muslim, salah satu warga Desa itu. Sejak dibangun jembatan ini memberikan manfaat besar bagi penduduk Dusun Tuo untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Terutama untuk memperlancar akses perekonomian warga yang mayoritas adalah petani. Masyarakat Desa Tuo Sumay sangat terbantu untuk menggarap lahan mereka yang berada di Seberang Sungai Batang Sumay.

"Hampir segalo warga Desa Tuo Sumay berkebun di Seberang Batang Sumay ko, rato–rato kebun parah (karet, red), sejak ado jembatan ko kalu nak motong (menyadap karet,red) kami jadi mudah dak payah nak nyebrang berperahu lagi", tutur Alimudin Ketua BPD Desa Tuo Sumay.

Dahulu, jembatan ini juga berperan sebagai tempat rekresi anak muda. Baik dari dalam desa, desa tetanngga bahkan dari kecamatan lain. Mereka menikmati pemandangan dari atas jembatan dan juga menikmati nuansa alam yang masih asri. "Paling sering dulu tu ketika hari minggu dengan sabtu sore," tambahnya.

Namun sejak beberapa tahun terakhir kunjungan mulai kurang. Begitupun dengan masyarakat Desa Tuo Sumay maupun Dusun Olak Bandung sudah agak jarang melewati jembatan ini karena kondisi jembatan yang sudah mulai rapuh termakan usia. Sehingga rawan kecelakaan.

"Pengendara maupun pejalan kaki merasa ngeri melewati jembatan itu, karena sering jatuh, karena licin dan goyang saat menempuh jembatan tersebut," kata Alimudin yang saat itu diampingi isterinya.

Selain kondisi jembatan, jalan dari Desa Tuo Sumay ke Olak Bandung yang berjarak sekitar 1,5 KM juga dalam kondisi sangat memprihatinkan. Jalan itu berlumpur pada musim hujan. Padahal jembatan itu sangat vital bagi masyarakat untuk memetik hasil perkebunan mereka. Dan tentunya untuk meperlancar akses informasi dan komunikasi serta kegiatan pemerintahan Desa,

Apalagi perekonomian masyarakat Desa Tuo Sumay bergantung terhadap lahan kebun di daerah Dusun Olak bandung sangat membutuhkan jembatan untuk memeperlancar akses mereka. Dampak lainnya sebanyak 300 jiwa warga Olak Bandung menjadi terisolasi. Ditambah lagi dusun tersebut belum dialiri listrik.

Untuk perawatan jembatan itu, setiap tahun pihak desa memperbaiki kerusakan jembatan dengan menggunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD) yang terbatas. Selain itu swadaya dari masyarakat yang menyumbang beberapa keping papan.

"Seandainyo jembatan di buat lebih bagus dan besar yang bisa dilewati mobil dan di buka jalan di seberangnyo desa kito ko biso terhubung langsung dengan Olak Bandung, Sungai Rambai seberang, Ragunas, dan Serai Serumpun," kata Alimudin. (ade/Radar Tebo)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kegiatan Sukandar Pasca Putusan Mahkamah Konstutusi

Dampingi Anak Berenang, Berharap Tidak Ada Lagi Kecurangan


Lebih dari 2 minggu Calon Bupati Tebo H Sukandar S.Kom Msi mengikuti agenda sidang perkara sengketa Pilkada Tebo di Mahkamah Konstutusi (MK). Dan pada rabu (13/4) lalu MK mengabulkan gugatan pasangan nomor urut 1 yang berpasangan dengan Hamdi Ssos MM ini. Apa saja kegiatan Sukandar setelah putusan itu? Radar Tebo yang berhasil berbincang dengan wakil Bupati Tebo ini melaporkan.


Hari kedua setelah MK memutuskan pilkada Tebo 10 maret lalu penuh kecurangan dan harus dilakukan pemungutan ulang, Sukandar kembali lagi ke kota Muara Tebo. Peluang untuk mewujudkan keinginan untuk membangun Kabupaten Tebo lima tahun ke depan kembali terbuka seiring dengan putusan MK yang mengabulkan permohonan pasangan ini.


"Alhamdulillah MK mengabulkan permohonan kita. Putusan ini sangat kita syukuri, namun kita semua harus berbenah diri untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bisa memilih pemimpin yang terbaik sesuai dengan hati nurani masyarakat Tebo," kata Sukandar membuka obrolan dengan Radar Tebo via ponselnya jumat (15/4) kemarin.


Sekembalinya ke Tebo pasangan ini akan kembali berjuang meraih kepercayaan masyarakat. Dan disela kesibukan yang akan menyita waktunya itu, Sukandar meluangkan waktu untuk keluarga, isteri dan anak-anaknya. 2 minggu terpisah dari anak-anak membuatnya merasa bertanggungjawab untuk menghabiskan waktu seharian bersama putra-putrinya.


Makanya kemarin siang usai salat jumat dia bersama isteri tercinta Saniatul Lativa langsung membawa anak-anaknya ke kota Muara Bungo. Di kabupaten yang dulu merupakan induk kabupaten Tebo tersebut, Sukandar mendampingi anak-anaknya yang masih kecil-kecil dan butuh perhatian.


"Anak-anak mau berenang. Dan itulah yang pertama saya lakukan untuk berkumpul dan libur bersama. Saya sangat mencintai anak-anak. Kasihan melihat mereka selama dua minggu ini saya sibuk dan tidak ada waktu untuk libur bersama," kata Sukandar.


Tidak hanya menghabiskan liburan dengan berenang, Sukandar juga mendampingi anak-anaknya bermain game di Time Zone. Kedekatan dengan anak-anak membuat Sukandar bisa melepaskan penat selama menghadapi sidang di MK. "Bermain bersama anak-anak membuat saya bisa melupakan kesibukan di dunia politik," tuturnya.


Untuk menghadapi pemungutan suara ulang, Sukandar mengatakan seluruh tim telah siap. Namun dirinya berharap agar putusan MK tersebut bisa menjadi momentum bagi seluruh masyarakat Tebo dan pihak terkait untuk menggelar pilkada yang bersih tanpa kecurangan lagi.


"Biarlah putusan MK menjadi pelajaran bagi semua pihak agar Pilkada tebo benar-benar bersih. Biarkan masyarakat yang memilih pemimpinnya sesuai dengan hati nurani untuk kemajuan kabupaten Tebo lima tahun mendatang," tukasnya.


Untuk itu diharapkannya tidak ada lagi kecurangan saat pilkada ulang nanti. Seperti pengerahan PNS, intimidasi, ancaman dan lainnya yang dapat merusak tatanan demokrasi. Karena yang berhak untuk memilih pemimpin Tebo adalah masyarakat yang memilih sesuai hati nurani. Bukan karena terpaksa atau juga tekanan-tekanan.


Bahkan dengan PNS yang menurut putusan MK terbukti melakukan pelanggaran, Sukandar mengatakan dirinya tidak menyimpan dendam. Namun untuk tegaknya proses hukum, dirinya masih mempelajari putusan tersebut. "Masih dipelajari, jika pelanggaran berat mungkin dilaporkan, namun jika pelanggaran biasa saya akan maafkan," katanya.


Dan dia hanya berharap kepada masyarakat Tebo pada pemungutan suara ulang ini untuk bisa memilih sesuai dengan keyakinan mereka. Diharapkannya, masyarakat Tebo tidak terpancing dengan iming-iming uang untuk membeli suara rakyat dan pada akhirnya akan merugikan kabupaten Tebo lima tahun mendatang.


"Pilihlah sesuai dengan hati nurani siapa pemimpin yang pantas untuk memimpin kabupaten Tebo lima tahun mendatang. Jangan tergiur money politik. Jangan sampai hanya karena uang Rp 50 ribu akan merugikan masa depan kabupaten Tebo dan masyarakat Tebo," tandasnya mengakhiri obrolan dengan Radar Tebo.(*)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 14 April 2011

Pisang Berbuah di Batang Dianggap Bawa Hoki

. Kamis, 14 April 2011
0 komentar

Jika Tuhan berkehendak, sesuatu yang tidak sesuai dengan kodratnya bisa saja terjadi di dunia ini. Seperti pisang yang berbuah di batangnya yang terjadi di desa Bedaro Rampak. Walau kejadian unik seperti ini bukan yang pertama terjadi, tetapi tetap saja membuat warga penasaran.

Adanya pisang yang mengeluarkan buah dari batangnya di RT 8 Dusun Badaro Mudo Desa Bedaro Rampak Kecamatan Tebo Tengah menjadi buah bibir dalam masyarakat. Satu persatu warga yang penasaran mendatangi tempat pisang itu tumbuh.

Pisang itu memang tidak seperti berbuah sebagaimana biasanya. Tandannya keluar dari batang pisang bukan di ujung atas batang. Bentuk tandan dan buahnya juga terlihat unik, beda dengan buah pisang pada umumnya.

Inilah yang menjadi perhatian dan perbincangan warga sekitar. Pisang itu tumbuh di halaman belakang rumah Toni (42) waga desa tersebut. Keunikan lain dari pisang ini tidak mempunyai jantung. "Memang pisang yang aneh," sebut warga yang melihat pisang itu.

Keunikan pohon pisang diketahui Suharti (43) istri Toni saat memeriksa kondisi kebun empat hari yang lalu. Pohon pisang jenis 40 hari ini, awalnya terlihat normal. Namun, semakin hari pohon pisang mulai memunculkan keanehan.

"Sudah empat hari saya dikasih tau istri saya,seharusnya kalau pohon pisang normal tumbuh dengan didahului jantung pisang, tapi ini tampa jantung pisang," kata Toni ditemui Radar Tebo dirumahnya, Kamis (14/4) kemarin.

Selanjutnya, Toni yang kesehariannya sebagai sopir ini mengaku, sebelumnya tidak merasakan firasat apa-apa. Namun, semenjak dia mengetahui keberadaan pisang tersebut, dia merasa nyaman dan rezekinya lancar.

"Pikiran saya jadi tenang dan rezeki tambah lancar," lanjutnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, sebelumnya ia tidak pernah bermimpi ataupun merasakan bahwa ada tanda-tanda akan tumbuh pisang unik di halaman belakang rumahnya.

Ia berharap, dengan adanya fenomena unik pada pisang itu, akan membawa berkah pada warga setempat. "Ya kami berharap, dengan adanya penemuan unik pada pisang itu, mudah-mudahan ada berkahnya untuk warga Desa Bedaro Rampak," katanya. (Radar Tebo)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 11 April 2011

Mahasiswa STIT Bekerjasama Dengan Desa Gelar Turnamen Sepakbola

. Senin, 11 April 2011
0 komentar

TELUK MELINTANG-Kuliah kerja nyata (Kukerta) Mahasiwa STIT Tebo di desa Teluk Melintang kecamatan Serai Serumpun telah dimulai sejak pekan lalu. Saat ini 10 mahasiswa yang tergabung dalam Posko II ini telah membaur dalam masyarakat desa dengan berbagai kegaiatan sosial.

 

Salah satu kegiatan yang saat ini dilakukan mahasiswa bekerjasama dengan perangkat desa yakni turnamen sepak bola. Turnamen ini tidak hanya diikuti desa-desa dalam kecamatan Serai Serumpun, tetapi juga sampai ke kecamatan tetangga seperti VII Koto, Sumay, Tebo Ulu dan Rimbo Bujang.

 

"Sebanyak 36 klub ikut dalam turnamen ini yang telah di gelar sejak beberapa minggu lalu. Saat ini telah memasuki babak perempat final dan rencananya nanti kita akan undang Bupati Tebo terpilih untuk menutup turnamen ini," kata Firdaus ketua penyelenggara turnamen.

 

Sementara itu ketua Posko II, Dedi mengatakan 10 mahasiswa STIT melakukan Kukerta di desa itu selama 3 bulan. Di tengah masyarakat mereka mencoba mengimplementasikan ilmu yang didapat dari bangku kuliah kepada masyarakat.

 

"Jadi kami bisa langsung berbaur dengan masyarrakat sehingga saat selesai kuliah nanti bisa siap untuk bekerja atau juga mengabdi kepada masyarakat," tukasnya.

 

Ditambahkannya, selain bekerjasam dalam bidang olah raga, Mahasiswa juga menggelar kegiatan sosial lainnya. Seperti dengan menggelar pengajian remaja mesjid, bakti sosial, dan kegiatan positif lainnya.

 

"Alhamdulillah, keberadaan mahasiswa di sini mendapat sambutan dan dukungan dari masyarakat desa dan terlebih lagi kepala desa pak Idris Syam," tukas Dedi menandaskan.(Radar Tebo)

 

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 28 Oktober 2010

Ketika Suku Anak Dalam Ingin Sekolah Dan Layanan Kesehatan

. Kamis, 28 Oktober 2010
1 komentar


Minta Dianggarkan Gedung Dan Honor Tenaga Medis



Bepak-Bepak mika..e Jegon duduk bae.. kami.. e urang tebo jugo.. Umah sekula kami idak ado...!!! Sebuah tulisan jemari suku anak dalam (SAD) yang tertulis selembar karton. Mereka sampaikan keinginan mereka untuk mencicipi bangku sekolah ke DPRD Tebo dalam aksi damai. Layanan kesehatan juga sangat mereka harapkan dalam kehidupan mereka yang terisolir.


MUARATEBO

Belasan anak-anak dekil tanpa alas kaki dan dipenuhi daki mengangkat karton di depan gedung rakyat Tebo. Tak ada suara dibibir mereka siang kemarin (28/10). Hanya tatapan penuh harap memancar dari mata mereka yang tajam mengiris hati. Semilir angin mengoyangkan rambut mereka yang tak tersentuk sisir dan shampo.

Mereka adalah suku anak dalam (SAD) atau yang lebih biasa disebut suku kubu yang bermukim di desa Muara Kilis kecamatan Tengah Ilir, Tebo. Sejak pemerintah membangun 50 unit perumahan komunitas adat terpencil di desa tersebut beberapa bulan lalu, mereka mulai meninggalkan kebiasaan hidup leluhurnya. Kehidupan berpindah (no maden) mulai dilupakan. Mereka telah menetap.

Keinginan untuk memaknai runtutan huruf abjad mulai terselip di hati mereka. Bisa menulis dan membaca menjadi cita-cita yang ingin digapai. Kepada pemerintah mereka menyampaikan harapan tersebut. Bersama aktivis Tebo mereka mendatangi gedung wakil rakyat.

"Yang tertulis di karton itu adalah tulisan mereka sendiri. Aktivis lingkungan yangmendampingi mereka selama ini terus mengajarkan tulis menulis," kata Firdaus, dari LSM Pelita. Dan sekarang mereka berharap pemerintah memperhatikan keinginan suku terasing tersebut.

Dalam diskusi dengan di mediasi oleh DPRD Tebo dan aktivis lingkungan, di gedung rakyat kemarin, dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Dikbudpora) Tebo menyetujui untuk menerima tuntutan mereka. Dalam APBD Tebo 2011 mendatang, dikbudpora akan menganggarkan pembangunan 1 lokal untuk belajar lengkap dengan meubeller meja dan kursi.

Dalam pertemuan itu, pemerintah juga akan menganggarkan honor atau juga insentif bagi para guru yang mengajar di komunitas suku anak dalam tersebut. Itu direncanakan akan terelisasi dalam anggaran tahun 2011 mendatang yang saat ini mulai dilakukan pembahasan oleh pihak eksekutif dan legislatif.

S Sinaga seorang aktivis pendamping SAD juga menuturkan keinginan komunitas tersebut untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Selama ini mereka tidak mendapat layanan kesehatan, sehingga banyak yang sakit dan bahkan banyak yang tidak tertolong nyawanya saat bergulat dengan penyakit. "Kami minta layanan kesehatan untuk mereka juga diberikan," katanya. Kemudian akses jalan di pemukiman SAD itu juga menjadi keluhan.

Mendengar permintaan SAD tersebut, DPRD Tebo menyepakati untuk memberikan fasilitas kesehatan dengan menempatkan tenaga medis di lingkungan mereka. Tenaga medis tersebut akan di beri honor juga dalam pengabdiannya di komunitas terasing tersebut.

Dalam perjalanan sejarah generasi SAD, saat ini telah ada yang mencicip bangku sekolah dan menamatkan bangku SMP. Besudut (18) alias Herman Jalil, beberapa bulan lalu telah menamatkan SMP.(****)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 04 April 2010

Tempuh Jarak 160 KM Setiap Hari, Menerobos Hujan

. Minggu, 04 April 2010
0 komentar

Kisah Loper Koran Merintis Usaha Dari Nol

Kalau menjadi agen Koran tentu banyak. Namun yang berprofesi sebagai loper sangat sedikit. Dan kerap orang yang mencoba menjalani profesi hanya bertahan sebentar. Namun Tarman, telah 6 tahun bergelut dengan dunia ini dan mulai menapak kesuksesan.
MUARA TEBO-Rumah kontrakan di jalan sekubu tampak lengang dari luar. Sebuah sepeda motor terparkir di halaman rumah sederhana itu. Namun saat memasuki rumah, terlihat tumpukan Koran berbagai media harian dan tabloid yang tersusun rapi. “Ini Koran retur yang akan dikembalikan,” kata Tarman (33) membuka obrolan dengan didampingi isterinya Mahmuda (31).

Pria keturunan jawa ini sehari-hari memang berprofesi sebagai loper Koran dengan menerima Koran dari berbagai perusahaan yang bergerak di bidang media. Selanjutnya dia menditribusikan Koran tersebut ke puluhan pelanggan di dalam kota Muara Tebo. Saat ini dia bekerjasama dengan lebih dari 20 koran dan tabloid baik lokal maupun nasional.

Tidak hanya menunggu kiriman Koran dari mobil ekspedisi, Tarman juga menjemput sendiri Koran ke percetakan yang ada di kabupaten Bungo. Pukul 04.00 dini hari di saat orang masih menikmati mimpi, ayah Rizqi (3,5) ini telah mengendarai sepeda motor melawan dingin pagi menempuh jarak puluhan kilo meter. “Dalam sehari bisa menempuh jarak 160 KM,” ceritanya.

Tarman juga akrab dengan cuaca panas dan hujan. Namun untuk memuaskan pelanggan, hal itu bukan rintangan. Dia sanggup bekerja dalam cuaca yang panas maupun hujan dengan tirai jaket dan jas hujan. Dia harus mengantarkan Koran ke pelanggan harus tepat waktu agar Koran tidak kesiangan sampai ke tangan pembaca.

Profesi ini telah dilakoninya sejak tahun 2004 silam. Saat itu dia masih menjadi loper sebuah media harian. Namun berkat keuletannya, tawaran kerjasama dari berbagai media terus mengalir. Oplah setiap hari juga sanggup bersaing bahkan melebihi agen Koran yang ada dalam kota Muara Tebo. “Setiap media baru yang masuk ke Tebo, selalu mengajak bekerja sama,” tuturnya.

Pria yang sekarang rutin menjalankan hobinya bermain bulu tangkis ini tidak serta merta menuai kesuksesan. Dia telah menjalani berbagai profesi. Awalnya dia merantau dari jawa ke Pagar Alam, Sumatera Selatan dan bekerja sebagai kuli bangunan. Tahun 2004, bersama saudaranya mereka pindah ke Tebo.

Namun pekerjaan bangunan yang hanya musiman membuatnya kehilangan pekerjaan saat kontrak kerja berakhir. Dia pun pindah kerja sebagai pelayan rumah makan. Namun profesi itu hanya sanggup dijalani sekitar 4 bulan. Hingga akhirnya mencoba-coba menjadi loper Koran. “Enaknya jadi loper itu tanpa modal. Tapi kita harus bisa menjaga kepercayaan perusahaan,” tuturnya.

Sekarang, dengan keuletannya, dalam 6 tahun sebagai loper dia telah bisa membeli tanah, bangun rumah sendiri dan memiliki dua sepeda motor. Dia juga merintis usaha gorengan yang dijualnya saat malam hari hingga mejelang tengah malam. “Alhamdulillah, sekarang sudah terlihat hasil kerja selama ini,” kenang pria yang sudah empat kali pulang ke Jawa dengan mengendarai sepeda motor ini.

Semua orang tentu punya harapan yang ingin di gapai. Tarman juga masih menyimpan dan meperjuangkan cita-citanya untuk memiliki kios Koran sendiri. Impian ini telah lama diidamkannya. “Saat ini belum ada modal, mudah-mudahan nantinya bisa tercapai memiliki toko Koran sendiri,” harapnya menerawang.(***)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Berita Populer

Objek Wisata Danau Sigombak Tebo, Jambi
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com